Menikah Itu Mudah, yang Sulit Itu Gengsi

SELAMATHARIAIR.COM – Agustus, menjadi bulan yang sangat meriah, terutama di kampung-kampung. Warga bergotongroyong membersihakan jalan, memasang bendera, mengecat pagar, dll. Agustusku pun meriah, tapi kemeriahan ini kami balut cukup sederhana. Sebelum cerita soal upacara pernikahan, yappp soal menikah, saya coba bawa kalian ke memoryku 6 tahun lalu.

Perkenalan

Tahap awal, cukup lucu kalau mengingat perkenalanku ini. Lucu bagi kami berdua, sebut saja kami adalah Rachma & Ipong. Kami berdua kenal lewat 3 hal, pertama adalah Agung Nugroho, kedua adalah reggae, dan ketiganya adalah twitter. Oke, saya bahas satu per satu ketiga hal ini.

Pertama, Agung Nugroho

Dia adalah temanku, kenal di Sekolah Menengah Kejuruan, kami punya kesamaan, yaitu suka dengan musik, saat itu khususnya musik reggae. Jaman SMK suka ngulik informasi seputar reggae, melalui beberapa media baik online maupun offline. Bahkan beberapa kali nonton konser di luar kota dengan modal nekat ya dengan si Agung ini, pokoknya banyak cerita tentang musik kalau sama dia.

Jaman kuliah Agung kuliah di Universitas Negeri Semarang, sedang saya kuliah di luar negeri (dibaca: swasta) di Yogyakarta. Kami berdua masih sering ketemu, masih sering ngobrolin musik, masih juga aktif di komunitas reggae. Hingga di tahun 2013 dia diwawancarai salah satu mahasiswi Universitas Semarang untuk tugas mata kuliah Metode Penelitian yang kebetulan ada sangkut pautnya tentang musik dan reggae. Mahasiswi tersebut adalah Rachma, yang menghubungi Agung sebagai narasumber tugas kuliahnya lewat Ratna. Ratna teman Rachma semasa SMA dan Ratna adalah teman satu kelas Agung di bangku kuliah.

Kedua, Reggae

Rachma sepertinya tidak terlalu suka reggae, dia termasuk penikmat musik top 40 atau yang sering orang bilang musik Pop. Hanya saja di tugas kuliahnya, ia mencoba mengambil tema musik reggae. Tugas yang ia buat berjudul “MINAT MENDENGARKAN MUSIK REGGAE DITINJAU DARI AKTUALISASI“. Nah karena Agung dan saya masih sering ketemu, masih sering ngobrol soal musik, Agung menceritakan hal tersebut kepada saya, cerita kalau habis jadi narasumber salah satu tugas kuliah. Cukup tertarik mendengar hal itu spontan saya bertanya “siapa yang bikin tugas tentang reggae, minta hasilnya ada?”. Kemudian beberapa waktu setelah itu agak lupa dengan kejadian tersebut.

Ketiga, Twitter

Agung dan Rachma saling mengikuti di media sosial satu ini, twitter. Meraka beberapa kali mention-mention, karena sudah kenal gegara Agung jadi narasumber di tugasnya Rachma. Tiba-tiba di salah satu tweet, Agung menyebut username akun twitter saya yang intinya ngomong kalau ini nih anak yang kemarin bikin tugas mata kuliah tentang reggae. Akhirnya Rachma dan saya saling sapa di twitter, saling mengikuti hingga dikirimlah 2 file dalam format .doc ke e-mail saya. E-mail tersebut adalah tulisan dari hasil wawancara tentang reggae, saya baca, cukup menarik isinya, akhirnya kami berdua (Rachma & saya) asik berkomunikasi lewat jejaring sosial twitter. Dari tahun 2013 hingga tahun 2014 hanya via twitter dan BBM (BlackBerry Messager) saat itu. 2014 akhirnya bertatap muka, ketemu di Semarang, makan bareng, ngopi bareng, yang berujung pada “Pacaran” di bulan Desember 2014.

Pacaran

Masa-masa pacaran cukup panjang, dari 2014 akhir sampai bulan Agustus 2019. Masa pacaran ya bisa dibilang banyak jalan-jalan, kebetulan kami berdua suka jalan-jalan. Ke pantai, ke tempat ngopi, ke acara pameran, ke konser musik bahkan sampai ke rumah masing-masing untuk dikenalkan dengan keluarga. Cukup gila dan nekat saat itu, saya diajak ke rumahnya, kenal orang tuanya dengan kondisi saat itu saya masih berambut gimbal. Bayangkan, orang tua mana yang dengan santainya anak perempuannya membawa pulang teman laki-laki berambut gimbal? cukup absurd menurutku pribadi kejadian itu.

Selama pacaran kami bisa dibilang cukup selow menghadapi masalah-masalah pacaran, terutama masalah LDR. Jogja-Semarang pernah, Jogja-Pati pernah, Banjarnegara-Semarang pernah. Pokoknya selama pacaran, 2014 hingga 2019 kami tak tinggal di satu kota. Dimana banyak pasangan kandas, tumbang dibalik bayang-bayang LDR, kami berdua masih mampu, kami kalahkan LDR dengan jalan-jalan tiap ketemu, entah cuma nongkrong di angkringan pinggir jalan, entah hanya ke pantai dari pagi sampai sore, atau bahkan nonton konser musik tradisi hingga eksperimental.

Niat Melamar tapi Harus Ndodog Lawang

Bulan ke empat, tepatnya di tanggal 18 di tahun 2019, keluarga saya ke Pati, berkunjung ke kediaman Bapak-Ibunya Rachma. Awalnya dari rumah niatan untuk lamaran, ternyata adat di Pati lain. Sebelum lamaran ternyata ada istilah Ndodog Lawang. Apa itu Ndodog Lawang?

dikutip dari sayamutmainah.blogspot.com

Ndodog lawang seperti acara temu keluarga. Diantara kedua keluarga saling bertemu dan berdiskusi mengenai kelanjutan hubungan  kearah yang lebih serius/ pernikahan. Pertemuan dilakukan di rumah si wanita. Khusus daerah Pati dan sekitarnya ndodog lawang berlangsung pada malam hari sekitar jam setengah 8 malam. Ndodog lawang menjadi suatu hal yang wajib dilakukan sebelum berlangsung pernikahan. Mengapa demikian?. Ndodog lawang merupakan wujud keseriusan pihak laki-laki untuk memperistri pihak wanita. Selain itu, mengetahui apakah si wanita menerima/menola niat serius dari pihak laki-laki.

Menentukan Tanggal Lamaran dan Pernikahan

Sebelum datang untuk ndodog lawang, Rachma sempat menanyakan tanggal lahir bapak ibuku, lengkap dengan weton, weton ini adalah kalender Jawa yang biasanya dipakai untuk penyebutan pasaran di jawa. Pasaran : pahing, pon, wage, kliwon, manis. Nah untuk menentukan tanggal pernikahan, dihitunglah antara weton Bapak, Ibu, Rachma, Saya yang sampai saat ini saya belum mempelajari bagaimana cara penghitungannya, saya idem saja sama sesepuh bab yang satu ini. Yang akhirnya tanggal pernikahan jatuh pada 15 Wage yang di kalender Nasional adalah bertepatan dengan peringatan hari kemerdekaan Indonesia, Sabtu, 17 Agustus 2019. Kemudian dikarenakan Banjarnegara dan Pati jaraknya lumayan jauh, dua keluarga sepakat prosesi lamaran dilaksanakan tepat sebelum hari H pernikahan, yaitu Jum’at 16 Agustus 2019.

menikah sederhana
anggep aja ini foto prewedd, kita ga ngadain sesi khusus prewedd ala-ala pasangan masa kini

Kami pun Menikah!

Seperti pasangan pada umumnya, kami pernah punya cita-cita menikah dengan konsep A, B, C hingga Z. Waktu jaman awal pacaran kami ingin menikah dengan konsep yang bisa dibilang mainstream jaman sekarang, menggunakan konsep ini itu, menggunakan dekorasi british dan floral, bikin short movie prewedd, konsep foto pakaian tradisional, dan lain sebagainya. Semua itu sempat kami obrolkan, hingga makin lama kami pacaran, kedewasaan kami mungkin semakin tumbuh, kami ingin menikah dengan ala kadarnya, menikah dengan sederhana tapi pasti.

Kami berburu souvenir sendiri, ke pasar Beringharjo Yogyakarta. Kami desain sendiri undangan pernikahan kami. Kebetulan Rachma suka bikin gambar pake cat air, kami berdua kerjasama. Rachma membuat gambar bunga dan daun dengan cat air, kemudian di scan, lalu file hasil gambarnya saya olah di Corel Draw untuk dijadikan desain undangan.

flower pattern watercolor
hasil gambar Rachma menggunakan cat air kemudian di scan

Nah karena saya sedikit bisa mainan Corel Draw, dari pattern bunga dan daun di atas, saya buat menjadi desain undangan pernikahan kami, berikut hasilnya

contoh desain undangan pernikahan. Menikah itu mudah!
kalau temen-temen mau order desain undangan, saya juga siap lhooo, japri mesra yak

Ngomongin soal pernikahan biasanya tidak lepas dari yang namanya make-up atau rias. Tentu kami tidak bisa melakukan ini sendiri, akhirnya kami mencari orang yang sudah pasti bisa di jalur rias-merias pengantin. Lagi-lagi, kami berdua cari sendiri, walaupun awalnya Ibunya Rachma sudah mencarikan, namun kami dengan berat hati menolak. Menolak bukan tanpa alasan, kami menolak karena jauh-jauh hari sebelum ndodog lawang, kami sudah berkunjung ke salah satu jasa rias pengantin di pati yang tak lain tak bukan adalah teman kami. Namanya Mba Ayu, dia adalah salah satu teman lama saya yang ada di lingkaran reggae, lagi lagi reggae mempengaruhi hidup saya!. Mba Ayu dan Mas Ipung adalah dua insan yang ditemukan karena reggae juga, sungguh Robert Nesta Marley cukup berpengaruh dalam urusan percintaan, lirik lagu “One Love” sepertinya cocok dimainkan untuk menuliskan cerita ini. Maaf tunggu sebentar, saya buka spotify dan memainkan lagu One Love Bob Marley dulu.

Mba Ayu punya usaha rias pengantin dengan nama Ayu Kusuma Rias, kalian bisa cek di instagramnya @ayukusumarias. Mas Ipung, suami Mba Ayu juga punya usaha, sebuah warung kopi yang bernama ISIKOPI, silakan cek juga instagramnya @isikopi. Kedua usaha ini beralamatkan di Jln. Diponegoro no.44 Pati. Untuk jasa rias pengantin silakan hubungi Mba Ayu di nomor : 085855782414

jasa rias pengantin di pati
hasil make up @ayukusumarias

Permohonan Maaf Kami

Kami, terutama saya (ipong) tidak mengundang teman-teman, bukan berarti melupakan kalian semua, namun atas pertimbangan kami berdua, kami takut memberatkan teman-teman jika kalian kami undang. Untuk ke rumah Bapak Rachma, di Ngablak, Cluwak, Kabupaten Pati ini tidak dekat, jarak tempuh cukup panjang, belum lagi nanti kalian repot bawa kado atau ngasih amplop, kami tak ingin hal itu terjadi. Kami hanya ingin doa dan restu dari kalian, sehingga dengan pertimbangan yang sedemikian rupa, kami tak mengundang teman-teman di Banjarnegara, Jogja dan beberapa kota lain. Smoga kalian mau memaafkan dan mendoakan kami

buku nikah indonesia
akhirnya kami menikah, 17 Agustus 2019

Menikah itu mudah, yang sulit itu gengsi

samidi

2 thought on “Menikah Itu Mudah, yang Sulit Itu Gengsi”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *