Sikunir Dieng 30 & 31 Maret 2014 oleh 3 backpacker nekat

everydayiseeyou

Malam minggu itu tanggal 29 Maret 2014 di sebuah tempat nongkrong sebut saja “Serayu Park” semacam dinner atau lebih tepatnya numpang minum teh jahe hangat sambil dengerin Nyetnyet karaoke. Malam itu kita 6 orang, 3 diantaranya yaitu jaka, nyetnyet dan saya, sedikit ada obrolan untuk mengatasi beberapa kali plan ke Sikunir yang gagal terus menerus. Jaka dan saya deal untuk naik ke Sikunir hari minggu (30 maret 2014), langsung saja contact temen-temen lain via sms, bbm, dll. sementara itu nyetnyet yang ingin ikut juga harus nunggu persetujuan dari Ibu’nya, maklum lah dia cewek jadi sedikit lebih ribet untuk urusan ijin bermalam. Minggu pagi sekitar jam 6 saya contact temen-temen untuk mengkonfirmasi siapa saja yang jadi ikut sekaligus browsing cari persewaan tenda dan beberapa perlengkapan lain. Sedikit terkejut dengan jawaban jaka yang mendadak tidak bisa ikut karena kewajiban dia di kerjaan, ya sudahlah akhirnya saya tetapkan 3 orang saja untuk ke Sikunir. Browsing sana browsing sini, akhirnya nemuin DiengPazz, tempat persewaan peralatan outdor seperti tenda, matras, sleeping bag, dll. , ada contact person yg bisa dihubungi, langsung saja saya contact untuk booking tenda, matras, sleeping bag dan tas. Sedikit lega karena sudah ada peralatan, semenjak pagi itu terus contact ke adwin & nyetnyet yang akan jadi partner untuk ke sikunir. Awalnya nyetnyet hampir tidak jadi ikut karena ada saudaranya yang datang dari luar kota, tapi tak selang lama dia kasih kabar “aku jadi ikut, diijinin sama mamah”, fix akhirnya kita berangkat bertiga. 

nyetnyet ipongdjembe
adwin, saya, nyetnyet (dari kiri ke kanan)
 Start pukul 11:00 wib dari rumah, jemput nyetnyet sambil pamitan ke Ibu’nya, lalu jalan ke paweden untuk ketemu mas adwin yang berangkat dari wanadadi sendirian. Hujan dengan angin besar menghentikan perjalanan kita, berteduh untuk berkemas-kemas barang bawaan dan mengenakan mantel, akhirnya lanjut perjalanan ke paweden. Sampai di paweden sudah terlihat mas adwin yang lengkap dengan seragam tempurnya ( dibaca : mantel / jas hujan), lalu kita lanjutkan perjalanan dengan tujuan Dieng Kulon ( Batur, Banjarnegara) untuk ambil tenda, matras, dan sebagainya. Setelah perjalanan sekitar 1,5 jam, akhirnya mendarat di DiengPazz, sebuah tempat penyewaan alat-alat outdor. Sembari packing untuk melanjutkan perjalanan, sejenak istirahat di DiengPazz dan sempat keluar cari makan, terdampar di pedagang kaki lima yang menjajakan gorengan hangat yang begitu cocok dengan keadaan dingin yang mulai bisa dirasakan oleh tubuh ini. Nah kita lanjutkan perjalanan dari diengpazz menuju desa sembungan yang konon katanya adalah desa tertinggi di pulau jawa, perjalanan sekitar 10 menit dengan menggunakan kendaraan bermotor. Tibalah di sebuah gerbang bertuliskan “Welcome to Sembungan Village”, sayangnya disini ga bisa foto karena pas lewat, ada rombongan motor-motor besar yang berjajar disana untuk mengambil foto, istilahnya kita kalah set sama mereka. Sekedar info untuk pendaki yang ingin bermalam di Sikunir atau telaga cebong, per orang dikenakan biaya Rp. 4.000,- kemudian untuk ijin mendirikan tenda sebesar Rp. 5.000,- per tenda. Sampailah kita di telaga cebong, disana ternyata tak seperti yang kubayangkan, disana begitu ramai, ratusan pendaki sudah siap disana, ada yang baru sampai, ada yang sudah mulai mendirikan tenda dan banyak yang sibuk hunting foto. Akhirnya kita bertiga parkir & menitipkan helm, lalu siap mendirikan tenda di pinggir telaga cebong.
Telaga Cebong desa Sembungan Dieng
setelah parkir langsung deh narsis dengan bantuan tripod kecil alakadarnya
telaga cebong desa sembungan dieng elza s virgina ipongdjembe

telaga cebong desa sembungan dieng

telaga cebong desa sembungan dieng

telaga cebong desa sembungan dieng

telaga cebong desa sembungan dieng

telaga cebong desa sembungan dieng

Setelah tenda jadi, hari mulai petang maka itu waktunya istirahat di tenda, ngobrol ngalor ngidul, main tebak-tebakan dan sempet keluar tenda untuk bikin api unggun dan ke warung cari makan, kebetulan disana ada warung yang buka sampai malam. Setelah tidur nyenyak hingga pukul 02:30 dini hari saya terbangun dan menengok keluar tenda melihat langit yang begitu gemerlap oleh bintang yang menyambut dengan senyum ramahnya, tak ketinggalan juga hawa dingin yang menusuk tulang. Pukul 03:00 saya bangunkan adwin dan nyetnyet untuk prepare naik ke puncak Sikunir, akhirnya sekitar pukul 03:30 wib kita mulai pendakian ke puncak Sikunir yang jaraknya sekitar 800 meter dari telaga cebong. Gelap dan menanjak membuat nyetnyet sering minta break istirahat, maklum lah dia cewek jadi kita maklumi, walaupun sebenarnya perjalanan naik masih tergolong sangat mudah, tangga-tangga batu & tanah sudah jelas track’nya.Sekitar 30 menit, kita sampai di puncak Sikunir dengan ratusan pendaki lain yang sudah datang lebih awal untuk mencari posisi yang cocok untuk menikmati pemandangan pagi yang begitu menakjubkan yaitu golden sunrise. Sekitar 500’an orang lebih yang ada di Sikunir saat itu, membuat saya sedikit kerepotan cari spot untuk pengambilan foto.
Golden Sunrise Sikunir, Dieng

Golden Sunrise Sikunir, Dieng

Golden Sunrise Sikunir, Dieng

Golden Sunrise Sikunir, Dieng

Golden Sunrise Sikunir, Dieng

Golden Sunrise Sikunir, Dieng

Golden Sunrise Sikunir, Dieng

Golden Sunrise Sikunir, Dieng
Setelah merasa puas di puncak Sikunir Dieng, akhirnya kami bertiga turun untuk kembali ke tenda di telaga cebong, sekitar pukul 08:00 wib dari puncak. Sampai di tenda, sempet istirahat sebentar, makan jajan, minum, foto-foto dan bongkar tenda.
Telaga cebong desa sembungan dieng

Setelah selesai packing, kita lanjut untuk bergegas pulang karena hari sudah mulai siang dan terik. Sekian cerita dari 3 backpacker nekat yang akhirnya bisa membunuh rasa penasaran akan pesona alam Puncak Sikunir yang begitu indah. Kami bertiga tidak bisa menggambarkan atau mengungkapkan bagaimana keindahannya, begitu indah, anda perlu kesana untuk membuktikannya. Sekedar info saja, jika anda ke Sikunir bulan juli-agustus, siapkan penghangat tubuh yang lebih ekstra, karena cuaca di bulan itu begitu extrim, dingin sekalia (*sumber : warga desa batur), terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca tulisan ini, saya bukan petualang sejati, jadi harap maklum jika tulisan ini berantakan tak seperti para master backpacker yang biasnya lebih detail menginformasikan perjalanan menuju suatu tempat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *