Sekilas tentang Dreadlocks (Rambut Gimbal)

Dreadlocks atau rambut gimbal kini sudah tidak menjadi hal yang asing di kalangan masyarakat Indonesia. Banyak musisi-musisi Reggae ataupun non reggae yang mengenakan dreadlocks tersebut sebagai gaya (fashion) ataupun memang sebagai suatu kepercayaan tentang unsur budaya dan spiritual seperti yang di katakan Ras Muhamad RI (salah satu musisi tanah air) yang mengaku dreadlocks yang melekat pada dirinya itu bukan sekedar fashion melainkan sebuah pengaplikasian tentang budaya dan spiritual. Mengenai hal ini, sempat ada obrolan antara Ras Muhamad RI dengan saya melalui jejaring sosial twitter, berikut ini tentang obrolan kami, bisa anda simak :

@ipongdjembe : Masbro, ada banyak pertanyaan dari orang2 tntang rambut gimbal yg dikenakan Ras, kenapa dari dulu jarang dilihatkan seperti sekrng

@RasMuhamadRI: ya krn gimbal/dreadlocksku bukan sebatas fashion… Ada nilai2 budaya & spiritual.
@RasMuhamadRI: dreadlocks yg ak tutup dlm tam atau sorban membentuk bagai sebuah mahkota. Mnandakan “Ras”/Prince.

@ipongdjembe : untuk nilai spiritual yg terkandung di dalamnya bisa disebutkan salah satunya ? mengapa dan bagaimana yg Ras rasakan ?

@RasMuhamadRI: Samson sbnarnya dreadloks yg mengabdi kepada Tuhan
@RasMuhamadRI: di dalam Rastafari, Samson bagian dari suku Dan. Suku dan itu bulan oktober sesuai dengan bulan lahirku

@ipongdjembe : kalau tidak salah pernah baca di internet tentang larangan memotong rambut dalam Rastafari ? Benarkah ?
@ipongdjembe : jika di tinjau dari unsur spiritual, bisa kasih sedikit argument tentang Dreadlocks anak2 dataran tinggi Dieng ?

@RasMuhamadRI: ya tentunya anak2 dieng dreadloksnya tumbuh secara alami bukan sembarangan. Mereka itu anak2 istimewa..
@RasMuhamadRI: bukannya anak2 gimbal dieng keturunan & titisan kiya’i yg sakti.. Ak lupa nama beliau siapa.
@RasMuhamadRI: coba kalo anak2 gimbal dieng mnjadi dewasa tnp dicukur dreadlocksnya. Tentunya mereka adalah anak2 dgn smcm ksaktian.

@ipongdjembe: tapi adat di sana harus ada ruwatan pemotongan rambut gimbal ? bagaimana dengan hal itu ?

@RasMuhamadRI: nahhh… Padahal jika dicukur dreadlocknya anak2 itu sakit. Hny pada saat dri kehendak anak gimbal sndiri bru bisa dipotong.
@RasMuhamadRI: Kiya’i Kolodite namanya bru ku cek… Beliau Kiya’i gimbal sakti yg mlindungi rakyat dieng pada jamannya. Boom !

@ipongdjembe : berarti ketika anak2 itu tidak menghendaki rambutnya untuk di potong akan ada kekuatan yg terdapat pada dirinya ?

@RasMuhamadRI: iya bro… Ak percaya itu. Hnya dibuat smcm setting bhw mereka dianggap “aneh” krn gimbal.
@RasMuhamadRI: mungkin ada ktakutan dikatakan “musrik” atau “sesat” pdhal itu tanda dri seorang Kiya’i…
@RasMuhamadRI: di Senegal, Afrika yg ingin mendalami Islam mereka memanjangkan dreadlocknya sbagai tanda pengabdian & komitmen kepada Allah.

@ipongdjembe : benar sekali masbro, bahkan masyarakan sendiri masih beranggapan kalau dreadlock itu dekat dengan anak2 nakal
@ipongdjembe : padahal jika dilihat dari sejarah ini http://www.diengplateau.com/2010/08/siapakah-sosok-kyai-kolodete-sebenarnya.html bnyak sekali yg perlu kita pahami lebih dalam tentang dreadlocks
@ipongdjembe : lalu pertanyaan dari saya “akankah dreadlocks menjadi kekuatan” ketika dreadlocks itu buatan (gimbal sambungan)” ?

@RasMuhamadRI: nah… Itu mindset yg ditanam Babylon. Kita rus putarbalik smua itu … Di nusantara… Di afrika…
@RasMuhamadRI: hmmm mnurut ak sich tidak… Karna rambut buatan itu bukan tumbuh dari kepala sndiri 🙂

@ipongdjembe : pernah juga dpt cerita tntang sosok ghaib yg ada pada gimbal seseorang, termasuk dlm unsur spiritual kah itu ?
@ipongdjembe : oia untuk Gimbal Ras sendiri itu sudah berapa lama ?

@RasMuhamadRi: 13 tahun 🙂

@ipongdjembe : ada pengalaman tentang hal mistis yg terjadi di dreadlocks’nya masbro ? bisa diceritakan salah satunya ?

Dan belum ada jawaban untuk pertanyaan akhir tersebut, mungkin beliau sedang ada acara dan belum sempat membalasnya. Nah ada yang sangat menarik tentang obrolan tersebut dimana salah satu tokoh bernama Kyai Kolodete, yang menjadi salah satu tokoh yang sangat di segani oleh masyarakat Wonosobo pada jaman’nya. Tentang siapa sosok, Kyai Kolodete, berikut ini sebuah artikel yang saya ambil dari situs www.diengplateau.com :

Bicara soal dieng tak lepas dari keindahan panorama dan nilai-nilai magis spiritual, Perpaduan dua hal itulah yang membuat pegunungan Dieng memikat banyak wisatawan. Sampai dengan sekarang, masih banyak yang membicarakan tentang keberadaan Kyai Kolodete, Siapakah Sosok Kyai Kolodete Sebenarnya ?
Banyak mitos yang membicarakan tentang Sosok Kyai Kolodete, salah satunya : “Anak-anak berambut gembel di pegunungan dieng merupakan keturunan Kyai Kolodete”, sedangkan mitos lain mengatakan “Kyai Kolodete tak akan pernah mencukur rambutnya hingga daerah yang di diaminya menjadi makmur”.
Menurut sejarah Wonosobo sendiri, Kyai Kolodete merupakan salah satu tokoh pendiri Wonosobo yang mendiami Daerah Dataran Tinggi Dieng. Bahkan Kyai Kolodete diyakini sebagai penguasa atau disebut merkayangan.
Di Gunung Kendil inilah terdapat pekaringan Kyai Kolodete dan istrinya. Pekaringan dari kata “karing” atau tempat berjemur. Dieng terletak di ketinggian 2093 meter di atas permukaan laut. Udara dingin memunculkan kebiasaan masyarakat berjemur pagi hari di bawah matahari. Pekaringan Kolodete diduga menjadi tempat untuk berjemur kyai yang konon memiliki rambut gembel itu.
Bahkan menurut cerita, di tempat itu pula Kyai Kolodete moksa atau sirna tak diketahui rimbanya. Namun di tempat tersebut tidak terdapat makam. Hanya bangunan beratap dengan tembok separuh. Pekaringan Kolodete ramai dikunjungi wisatawan. Baik dari dalam maupun luar kota. Mulai dari rakyat jelata hingga pejabat. Konon, berdoa atau ngalap berkah di tempat tinggi itu, banyak terkabulnya.
Pekaringan Kolodete itu ditemukan melalui proses meditasi oleh para penghayat kepercayaan. Prosesnya cukup lama. Berkali-kali meditasi, akhirnya para penghayat kepercayaan mendapat petunjuk. Di Gunung Kendil inilah salah satu tempat pekaringan Kyai Kolodete,”papar Bambang Sutejo, S.Kar.
Di mana letak pekaringan ini? Masih seputar kawasan Dataran Tinggi Dieng. Tak begitu jauh dengan Telaga Warna maupun Dieng Plateu Theater. Jalan masuknya searah dengan Dieng Plateu Theater. Pekaringan Kolodete dan istrinya Nini Dewi Laras berdekatan. Namun pengunjung harus jalan kaki sekitar 30-45 menit dari bawah. Diceritakan juru kunci Pekaringan Kolodete, di tempat tersebut dibangun cungkup atau rumah-rumahan. Persis di atas bukit Kendil.
Tahun 1999, orang dari Indramayu datang memberitahu agar membangun gubug atau rumah kecil di atas pekaringan Kolodete. Sementara saya belum tahu di mana lokasinya. Setahun kemudian saya melakukan meditasi di atas Gunung Kendil selama sehari. Dari situ saya mendapatkan petunjuk, pekaringannya di atas gunung itu,”kata Rusmanto menceritakan awal mulanya dibangun cungkup di atas Gunung Kendil.
Pada tahun 2001, Rusmanto membangun rumah kecil di pekaringan itu. Beliau mengakui, pembangunan rumah itu atas iuran para penghayat kepercayaan termasuk Rusmanto sendiri. Di tempat tersebut disediakan 2 tempayan besar berisi air dari Tuk Bimo Lukar dan Gua Sumur.
Perjalanan dari Dieng Plateu Theater sampai ke atas bukit Kendil memakan waktu sekitar 30-45 menit cukup menguras tenaga. Sebab, jalanan menanjak. Namun jangan khawatir begitu sampai di atas bukit, kemudian cuci muka dengan air Gua Sumur dan Tuk Bimo Lukar, seketika itu juga, kelelahan sirna. Kesegaran baru datang. Ini bukan sekedar mitos atau omong kosong.
Saya merasakan sendiri. Naik bukit tentu saja badan capek. Begitu membasuh muka dan cuci tangan, rasanya segar. Penat hilang. Yang ada hanya perasaan pasrah sumarah. Melihat pemandangan sekeliling yang sangat indah,tambah Bambang Sutejo.
Pekaringan Kolodete ini menjadi salah satu tempat yang menarik perhatian pengunjung. Mereka tidak hanya dari Wonosobo. Tidak sedikit yang datang Jakarta, Bekasi, Bandung, Surabaya, Semarang dan kota-kota besar lainnya. Bahkan Gubernur Bali sudah beberapa kali mengunjungi pekaringan Kolodete ini.
Apa yang menarik dari tempat tersebut? Konon, berdoa di tempat tersebut, cepat terkabul. Banyak yang sudah membuktikannya. Bambang mengakui dalam satu kesempatan dia bersama rombongan berkunjung ke pekaringan di Gunung Kendil.
Di tempat tersebut, masing-masing berdoa sesuai keinginannya. Ada dua orang yang belum menikah. Lantas berdoa khusuk di tempat tersebut.
Tentu saja berdoa kepada Tuhan yang memberi hidup. Beberapa bulan kemudian, dua orang perempuan lajang ini dilamar orang. Saya rasa ini suatu keajaiban. Meski demikian, kita yang memiliki keinginan harus ada usaha. Jadi ada doa dan ikhtiar sehingga keinginan bisa terwujud,”papar pria yang juga seorang dalang itu mantap.
Keistimewaan lain adalah pemandangan yang luar biasa indah. Dari atas Gunung Kendil pemandangan kota-kota di Jawa Tengah yang jaraknya ratusan kilometer terlihat indah. Apalagi pada malam hari, lampu kerlip-kerlip terhampar laksana emas berlian yang bersinar terang.
Dari atas ketinggian itu, muncul pengalaman spiritual yang luar biasa. Perasaan sebagai makhluk Tuhan yang tidak memiliki kuasa apapun dibandingkan Sang Pencipta, menumpuk di dada. Tak heran, bila pekaringan Kolodete ini menjadi tempat favorit untuk mendekatkan diri pada pencipta. Wajar pula, bila para tokoh dan pejabat tidak menyia-nyiakan kesempatan berkunjung ke tempat tersebut.
Pengunjung biasanya diantarkan oleh Rusmanto. Sang juru kunci inilah yang membuka doa, memintakan izin pada Kyai Kolodete tentang maksud kedatangan tamunya. Mengunjungi pekaringan Kolodete ini harus suci baik jiwa maupun raga.
Dituturkan Rusmanto, para pengunjung tidak boleh sombong maupun takabur. Harus selalu rendah hati. Kadangkala, pada saat itu juga ditunjukkan kelemahannya sebagai manusia. Badan yang besar, belum tentu kuat memanjat sampai di atas bukit Kendil.
Budaya Jawa yang adiluhung menarik minat kalangan akademisi.Sejumlah peneliti dari Universitas Leiden Belanda dan Universitas Gajahmada bertandang ke pekaringan Kyai Kolodete.
Mereka melakukan penelitian tentang budaya Jawa. Saya mengantarkan ke pekaringan,”tandasnya kepada Radar Semarang.
Masyarakat seputar Dieng, sangat menghormati leluhurnya. Ritual-ritual tertentu kerap diadakan. Rusmanto, mengaku setiap malam Senin dan Kamis Wage mengadakan kegiatan ritual di pegunungan Dieng untuk menghormati leluhur atau nenek moyangnya. Termasuk Kyai Kolodete. Berbagai ritual itu tujuannya hanya satu untuk meminta berkah, rahmat dan keselamatan bagi masyarakat.
Kyai Kolodete dipercaya sebagai leluhur sekaligus penguasa Dataran Tinggi Dieng. Semasa kecilnya, Kolodete berambut gembel. Dialah yang mewariskan rambut gembel pada anak-anak di seputar Dieng. Menurut mitosnya, lantaran rambut gembelnya begitu mengganggu, sebelum meninggal Kyai Kolodete berpesan agar anak cucunya membantu dalam menghadapi gangguan rambut itu. Sehingga diwariskan rambut gembelnya pada anak-anak.
Ruwatan rambut gembel ini salah satu daya tarik wisata Wonosobo. Tidak sembarangan asal mencukur. Tetapi harus menyediakan permintaan dari anak berambut gembel. Bila permintaan tak dipenuhi, meski rambutnya sudah dicukur, akan tumbuh gembel lagi.
Disadur Dari :
http://mskpesanggrahan.blogspot.com/2009/08/ki-kolodente-rambut-gembel-dieng.html
jatiningjati.com
Menurut berbagai sumber, Sosok Kyai Kolodete sendiri merupakan seseorang yang berkarisma juga seorang yang mempunyai daya linuwih, hal ini dikuatkan dengan gelar “Kyai”, bagi pemahaman Jawa adalah sebutan untuk “yang dituakan ataupun dihormati” baik berupa orang, ataupun barang. Selain Kiai, bisa juga digunakan sebutan Nyai untuk yang perempuan. >> Dieng Plateau History

Kyai Kolodete, Gimbal Dieng

Mungkin cukup sekian tulisan saya kali ini, tunggu posting lainnya ya, boleh juga kritik dan saran serta follow akun twitterku @ipongdjembe , terima kasih, Regards

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *