Petani Gaul,Petani Keren, Ya Harvest Mind.

SELAMATHARIAIR.COM – Ngomongin tentang Patani Gaul Yuk…. Beberapa waktu lalu, sebelum Harvest Mind melangsungkan panen beras organik perdananya, saya sudah mengikuti mereka lewat jejaring sosial yang cukup populer di kalangan milenial ini, sebut saja instagram. Lahir dengan nama pengguna @harvestmind membuat saya penasaran sehingga mengikuti setiap apa yang mereka bagikan baik di timeline maupun di instagram stories.

petani gaul
sumber gambar: instagram @harvestmind

Harvest Mind adalah?

Harvest Mind adalah sebuah ruang para pemuda yang memilih bertani sebagai jalan untuk tetap bertahan hidup.
Kami petani di Harvest Mind adalah para pemuda yang mendedikasikan hidupnya untuk dunia pertanian.
Seperti millenial pada umumnya, meskipun kami memilih bertani, kami tidak akan meninggalkan trend untuk tetap hidup indie dan artsiy.

#petaniindie | postingan instagram @harvestmind DECEMBER 14, 2018

Sebelum Bertani, Meraka Bekerja dimana?

Sebelum memutuskan untuk bertani. Sebagian dari mereka adalah para pekerja kantoran mahasiswa dan wiraswasta ;

  • Menjadi staffnya HRD di sebuah perusahaan di Jakarta
  • Menjadi staff di dunia prbankan
  • Menjadi teknisi di Perusahaan Telekomunikasi
  • Mahasiswa Fresh Graduate
  • Aktif di dunia Entertainment

Mereka bertemu pada suatu keputusan yang sama di dunia pertanian dan bertemu di impian yang sama yaitu menepis persepsi negatif tentang petani dan dunia pertanian.

sumber tulisan : postingan @harvestmind DECEMBER 14, 2018

Mimpi Mereka Apa?

Bukan tanpa cita-cita kita melakukan kegiatan ini. Seperti slide sebelumnyam cita-cita kita adalah menepis persepsi negatif dunia pertanian.

Mengajak pemuda millenial untuk mandiri dalam hal pangan.

Meneruskan cita-cita leluhur (Simbah) agat Nusantara sebagai lumbung pangan.

Harvest Mind | sumber tulisan : postingan @harvestmind DECEMBER 14, 2018

Mereka Patani Gaul yang Patut di Apresiasi

Saat mereka mengunggah panen perdana mereka, mereka menjual beras organik hasil bertaninya ke beberapa kawan, sayangnya saya kurang beruntung, saat sudah memantapkan untuk mengirim pesan lewat DM instagram, beras yang mereka jual sudah Sold Out alias ludes. Panen kedua semoga saya bisa order beras organik yang diproduksi Harvest Mind.

Oh iya, kenapa saya sebut mereka petani gaul? bagaimana tidak, mereka adalah termasuk orang-orang gaul di kalangannya, salah satu yang saya kenal adalah mas Dena Ema Pribadi pemilik akun instagram @aksaradena_ , dia adalah peyanyi (Rapper), juga sebagai MC, juga menjadi bintang iklan dan model beberapa video klip band-band keren yang tarafnya sudah nasional.

Visual yang ditampilkan Harvest Mind juga sangat kekinian, bagaimana mereka bercocok tanam menggunakan pakaian nan branded, sebut saja SUPREME.

Harvest Mind Supreme Petani Gaul
sumber gambar: instagram @aksaradena_

Harvest Mind juga menulis tulisan berjudul “Black Farm Municipal” yang bisa kalian baca dalam format .pdf di link berikut : klik di sini. Atau kalian yang susah membuka file dalam format .pdf akan saya tuliskan di sini, atas nama pribadi mohon ijin nggih mas mas Harvest Mind, pdf nya saya tulis di sini:

Sebuah Babak Awal Perjalanan Baru

Sebelum segalanya jadi rumit, perlu kalian ketahui hal ini bagi kami melampaui ideologi, melampaui gaya hidup, melampaui praktik, melampaui teori, melampaui imajinasi !

Jadi kami sendiri masih cukup kesulitan untuk menjelaskan segala sesuatu tentang Munisipal Tani Hitam ini. Semua jalan di perempatan telah kita coba, mulai dari yang terjal hingga yang buntu. Kami merasa inilah jawaban dari kegelisahan kami selama ini, rasa yang ingin terus berjuang dalam peperangan ini namun terhalang dialektika yang begitu rumitnya.

Paling sederhananya Black Farm Municipal merupakan kelompok tani, ya beberapa individu yang berkumpul lalu bertani bersama. Bertani ya yang seperti itulah biasanya kalian lihat petani seperti apa. Bedanya apa Bedanya gaul-gaul mungkin ya. Jadi menariknya dimana ? Ya kan tadi sudah dibilang melampaui imajinasi, bingung jadinya mau nulis apa (ini Zine jadi bebas mau model nulis nya gimana pokoknya).

Al kisah kita terdiri dari individu-individu yang sebetulnya sudah lama terkoneksi. Hingga pada sekitar tahun 2017 di sebuah kabupaten yang tidak terkenal kami menyatukan diri dalam sebuah kolektif yang berusaha signifikan dalam kegiatan-kegiatan sosial. Wacana demi wacana sebetulnya telah kita coba sejak bertahun-tahun lamanya namun hasilnya selalu saja mengganjal, entah karena ini hanya kota kecil yang sulit dijamah arus informasi atau memang wacana yang sudah basi.

Hingga pada suatu hari beberapa dari kami saat berada di Temon, Kulon Progo secara tak sengaja bertemu beliau yang bagi kami sudah menjadi guru dalam bidang ini. Itu adalah pertemuan pertama kami dengan beliau, melewati malam panjang dengan kisah yang melampaui imajinasi kami. Pada titik itulah kami merasa menemukan jawaban atas pertanyaan pertanyaan yang selalu muncul dalam tiap pertarungan jalanan. Sebetulnya kejadian seperti apa dan cerita seperti apa yang dapat memutar-balikan dunia dalam satu malam pun lembar-lembar zine ini rasanya takkan mampu menjelaskannya. Singkat cerita dari kejadian tersebut kami memutuskan untuk memilih jalan sebagai petani organik. Sepenggal cerita inilah yang mendasari terbentuknya Black Farm Municipal.

Tentu bagi anak muda seperti kami bertani saja tidak akan merasa cukup. Kami melakukan banyak hal lain yang sebelumnya hanya itu-itu saja dan kini menjadi terasa semakin hidup ketika dipupuk oleh nutrisi yang cukup. Kami masih erat dengan dunia entertaiment yang tidak bisa lepas dari kesenian. Atau kegiatan-kegiatan sosial lain seperti bersolidaritas dan gerakan literasi karna kebetulan kami banyak membaca banyak bercanda.

Bagaimana bisa melakukan semua hal itu sementara kita harus bekerja sebagai petani ? Justru karena menjadi petani lah kita bisa seperti itu. Salah satu guru kami pernah berkata “Moco tanpa buku, nulis tanpo papan (sepertinya bunyinya seperti itu saya sedang lupa pokoknya intinya seperti itu) atau dalam bahasa Indonesia berbunyi “membaca tanpa buku, menulis tanpa tempat”, semoga kalian paham maksudnya (saya sendiri paham). Dan kami “membaca” hal ini pun dari pertemuan dengan salah satu guru kami di Temon, KulonProgo. Dimana beliau bisa hidup, pun hidup yang “urup”, namun masih bisa bersolidaritas bahkan sempat melakukan kerja signifikan disana. Karena salah satu kebingungan selama ini bagi teman-teman yang bersolidaritas sendiri adalah tak jarang pula bermasalah dengan perutnya sendiri.

“Membaca” hal ini beberapa dari kami yang bahkan memiliki pekerjaan tetap dengan gaji yang layak, sebut saja HRD dengan gaji mencapai belasan juta per bulan, EO, Bank, hingga perusahaan Telekomunikasi memilih untuk resign dari pekerjaan tetapnya dan beralih menjadi petani organik. Bagi kami ini layaknya perjalanan spiritual dari titik berangkat, memutar, hingga kembali ke titik awal. akhirnya terjawab. Mungkin akan muncul pertanyaan kenapa begitu berani ? tentu saja karena kami tak perlu khawatir lagi soal tempat tinggal, makanan, dan bila dirampas konon surga sudah dikavling untuk kita saat gugur memperjuangkannya, maka yang tersisa hanyalah mereka yang butuh uluran tangan untuk kita khawatirkan.

Tertarik ? Siapkan hati yang murni terlebih dahulu. Karena kita-kita ini “sejen daripada yang other”.

Babak Lanjutan : Utopia Yang Memudar

Jika kita menengok sejarah dan meruntutnya hingga kini, sejujurnya kami masih meragukan keberhasilan wacana dan metode yang telah dijalani demi mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan yang dapat dinikmati semua orang tanpa ada yang saling dirugikan. Terlebih ketika belajar dari sejarah dan menatap masa depan sesungguhnya selalu ada pula rasa pesimis yang menyelimuti. Segalanya begitu samar, dan yang membuat kami teguh hayalah hati nurani.

Setitik cahaya datang dari titik konflik yang begitu redup langitnya, namun terang sorot mata warganya yang berjuang. Bayang-bayang kehidupan yang utopis, perlahan kabutnya pudar mendapat sinar matahari pagi. Peranyaan itu selalu muncul, “Apakah revolusi yang sesungguhnya dapat berhasil billa kita hanya mengulang apa yang pernah dilakukan ?”. Dan kini kami mendapat jawabannya, segalanya menjadi masuk masuk akal dan tidak utopis lagi.

Kita lupa jati diri kita yang sesungguhnya, sebagai bangsa dengan kekayaan alam yang terlampau besar. Sebagai negeri yang pernah terjajah tanah dan manusianya, nyatanya wilayah jajahan itu seringkali mencapai pikiran kita pula. Kita merupakan bangsa agrasis yang tak pernah pusing mencari makan di daratan dan lautan. Sayangnya kita justru bergelut dalam kubangan mengikuti permaianan kapital yang menurut kami telah berhasil menjerat kita hingga ke akar generasi.

Setiap wilayah tentunya memiliki bonus demografinya masing-masing. Apa bonus demografi kita? Yang selalu ada di piring kalian saat pagi, siang, dan malam! Yang membuat berbagai bangsa datang ke kepulauan ini untuk memperebutkannya. Sesuatu yang membuat seluruh dunia berkecamuk dalam peperangan. Dan karena kita manusia yang mendiami tanah tanpa kekurangan makanan, keadaan ini pula yang mendorong ilmu yang berkembang hanya tersisa bagaimana caranya hidup berdampingan dengan baik. Semua syarat kemerdekaan telah kita miliki, namun kenapa kita bisa terpuruk? Barangkali kita melupakannya, atau malah mengabaikannya.

Apa yang kami lakukan pada dasarnya sangat sederhana, yaitu mengingat kembali jati diri kita. Dengan menemukan kembali bonus demografi kita, apa yang menjadi jiwa dengan menjadi manusia yang menapaki tanah subur ini. Kami menjajaki setiap jejak, menemui setiap orang, dan mencoba apa yang masih terjangkau di jalan ini. Kami menemukan banyak tanda-tanda yang ditinggalkan para leluhur yang kini mulai sirna tertimbun keangkuhan postingan media sosial. Sebut saja sesaji yang berupa sembako yang ditinggalkan di alam setiap upacara adat. Para tetua hanya mengatakan “untuk memberi makan yang tidak kelihatan” ketika ada yang bertanya untuk apa. Dan pikiran kita yang telah dibentuk oleh lingkungan akan menerka bahwa itu adalah sesuatu yang gaib. Nyatanya? Sesaji yang biasanya dilarung atau ditempatkan di pintu air maupun di bawah pohon yang memutar banyak air merupakan bahan-bahan untuk memberi makan mikroba pengurai tanah yang baik untuk meningkatkan kesuburan tanah. Dengan diletakan di pintu air, maka berbagai zat yang terkandung di dalamnya akan tersebar merata ke setiap bagian terdalam dari tapak tanah ini. Dan tentu saja perkataan para tetua menjadi benar adanya, karena bagaimana caranya orang jaman dahulu mampu melihat mikroba saat belum ada mikroskop? Dan bagaimana masyarakat jaman dahulu dapat percaya keberadaan mikroba sementara ilmu sains waktu itu belum siap Bukankah ini lucu? Mari tertawa bahagia, hahaha 😀

Lalu dimana kisah revolusinya? Kami mengikuti cara yang dilakukan guru kami dengan menciptakan BaRaK yang awalnya dibentuk sebagai Barisan Rabuk Kompos dan saatnya tiba akan menjadi Barisan Rakyat (BaRaK), sungguh nama yang sarat akan makna mendalam. Apa itu BaRaK? Sebut saja seperti ini, katakanlah kita akan menanam sereh wangi yang bila disuling menjadi minyak punya nilai ekonomi tinggi, lalu kita nembung ke petani untuk ditanami galengan sawahnya dengan sereh wangi lalu membagi hasil untungnya. Bayangkan bila kita dapat melakukannya di seluruh sawah di satu kabupaten, kita akan mendapat teman seluruh petani di wilayah kita! Dan bila saatnya tiba nanti, kapital bisa apa saat orang-orang berhenti mengirim makanan ke piringnya ?!

Babak Akhir?

E-mail : [email protected]
Instagram : Black Farm Municipal / Harvestmind
Twitter : @TaniHitam
Silaturahmi : Kelompok Tani Porogapet

Terbang Menuju Samudra Makna

Melahirkan 3 nama dan 3 gambaran bukan berarti
kami memecah, memisahkan, maupun membedakannya
secara utuh. Sederhananya kami membaginya untuk lebih
mudah dipahami oleh siapa saja. Kami melebur bersama
tanah, tenggelam bersama air, dan terbang bersama
udara. Terlihat berbeda namun hal itulah yang
menjadikan tesis-antitesis-sintesis memiliki siklus yang
tak terbatas.
Nama Black Farm Municipal, Harvestmind,
Kelompok Tani Porogapet tidak terlahir dari pikiran dan
filosofi yang rumit. Mereka hanya berjodoh dengan kita,
dan kita merasa langsung mengerti bahwa mereka juga
merupakan jodoh kita, bahasa dunia yang dimengerti
semua orang 🙂
Jejak Black Farm Municipal memberi pesan
bahwa dalam kehidupan ini kita tidak pernah sendirian,
selalu ada yang lain yang memegang erat tanganmu
sambil terus membantu meneguhkan hatimu, dan
begitupula dengannya yang menggenggam tanganmu

membuat hatinya menjadi semakin teguh. Bintang-
bintang selalu menjadi misteri, begitupula yang berada di

tanah, kita tidak bisa melihatnya langung dengan mata
telanjang, saking banyaknya kita hanya mampu menggambarkannya sebagai bintang. Matahari, Air,
Tanah, Vertikal, Horizontal menjadi tiang-tiang yang

menyangga kehidupan menerbangkan kita dengan sayap-
sayap daunnya. Warna emas gabah terpancar setiap hari,

seperti misteri kenapa kerajaan di tanah ini dahulu tak
meninggalkan bekas pertambangan namun memiliki
banyak emas. Barangkali hijau daun merupakan
emasnya? Atau memang emas benar-benar diekstrak dari
sana? Ada cerita bahwa susunan molekulnya sangat
mirip! Sssttt …

Indra menangkap Harvestmind menegaskan
kembali perkara hidup dengan saling melengkapi. Hal
yang dapat dianggap konyol tentu dapat berjodoh
dengan hal lain yang dianggap lebih bermartabat.
Memikirkan bagaimana indra dapat menangkap kata
“pikiran”, otak rasanya masih belum mewakilinya, karna
bahkan dalam pengalaman pikiran seringkali sesuatu di
rongga dada juga terlibat. Indra justru menangkap dari
kejadian di tengah sawah saat membantu
mempertemukan antara organisme satu dengan lainnya
dengan bantuan air dan perjodohannya dengan matahari,
lahirlah 12.000 lebih warna yang melengkung indah dari
permukaan tanah melakukan perjalanan di udara dan tiba
kembali di permukaan tanah, dan indra meyakini bahwa perjalanannya belum usai. Dunia selalu meninggalkan
pertanda, dan pegalaman teringat ada seorang spons yang
mengatakan bahwa itulah imjinasi. Guru kami pernah
mengajarkan bila ingin bertani lihatlah pelangi. Warna
jamur yang dibutuhkan semuanya terdapat disana, dan
bila apa yang kau rawat sakit lihatah kembali sang
Mejikuhibiniu, Hijau akan selalu bisa menjadi obat dari
Kuning 🙂

Perjalanan Kelompok Tani Porogapet hakikatnya simbiosis mutualisme meski sering dicap parasitisme oleh kerakusan. Setiap makhluk lahir serta tumbuh dari kemisterian, zat dan ilmu dimensi lanjut yang belum mampu kita gapai menyisakan pengertian bahwa hidup sejatinya saling memiliki siklus memberi dan menerima dengan hati yang murni. Tanaman tumbuh dan menjadi makanan bagi hewan atau manusia, meski memakannya hewan dan manusia membantu tanaman menyebarkan beninhnya, hewan juga menjadi makanan manusia ataupun hewan lainnya. Tanaman, Hewan, serta Manusia menjadi makanan dekomposer dalam kematiannya dan menyuburkan tanah. Tanah menumbuhkan kembali tanaman dan siklus kehidupan terus berlanjut. Nyatanya semua makanan itu baik, proses produksi, distribusi, dan konsumsinya lah yang seringkali tidak.

Kelahiran

Alhamdulillah, ungkapan syukur kami panjatkan pada seluruh zat 🙂 Aksara, kami memberikan namanya demikian. Saat mulanya kami sudah sangat menyukai nama Sembada dan Sri Bumi tanpa kami sadari ternyata semesta hadir dalam diskusi saat kami mencarikan nama untuk kelahiran ini. Seharusnya suara sudah bulat, namun semesta tak mengizinkannya. Dan sekali lagi untuk kesekian kalinya kami tertawa dipermaikan dunia. Nama Aksara yang tak pernah terlintas di pikiran kami nyatanya sudah ada di depan mata sejak pertama kali kami semua dipertemukan. Aksara secara kebendaan merupakan tanda grafis/visual untuk berkomunikasi dan dalam kebudayaannya kebanyakan dipakai untuk mewakili ujaran. Dan dalam bahasa Sansekerta kata Aksara berakar dari kata “A” yang berarti ketiadaan serta “Khsara” yang memiliki arti termusnahkan. Sehingga Aksara dapat bermakna Tak Termusnahkan. Layaknya kisah siklus hidup setiap makhluk bila proses produksi, distribusi, serta konsumsi dilakukan dengan baik. Aamiin… 🙂

Salut untuk Harvest Mind

Angkat topi saya untuk mereka, Harvest Mind, yang sering kali mendatangi, menyambangi, berjejaring seputar isu agraria, seputar isu pertanian, mekera terjun langsung menjadi petani, tidak hanya menyuarakan bla bla bla soal Kendeng, soal Temon, Kulonprogo, pokoknya luar biasa pergerakan Harvest Mind, membuat saya pribadi tergerak untuk memulai gerakan yang hampir serupa, saya masih menyiapkan mental untuk bisa seperti mereka. Semoga diberi kelancaran, diberi nikmat sehat oleh-Nya agar bisa berkunjung ke tempat Harvest Mind sang petani gaul, belajar soal pertanian dengan mereka. Salam!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *